Pages - Menu

Selasa, 21 Juni 2011

TIROTOKSIKOSIS

Definisi
Tirotoksikosis merupakan tampilan klinis hiperfungsi kelenjar tiroid. Keadaan ini dikarenakan stimulasi tiroid oleh suatu globulin darah yang memiliki aktivitas TSH. Selain itu disebabkan adanya benjolan kecil didalam kelenjar, yang secara otanom membentuk hormone berlebih diluar sistem H-H. Biasanya diderita oleh penderita yang kelebihan minum obat yang mengandung iod / iodide atau makan makanan dengan kadar iod tinggi, dalam hal ini penyakit tsb disebut iod-struma
atau iod-Basedow.

Penyebab
- Penyakit Graves’
- Gondok multinodul toksik (yang berkembang sebagai respon terhadap keadaan tubuh, yaitu kehamilan)
- Kanker tiroid
- Tiroiditis post partum (onset 2 – 6 bulan post partum) dalam bentuk ringan dan jangka pendek

Gambaran klinis
- Umumnya penderita merasa sukar tidur, gelisah, rasa takut, menurunya berat badan akibat penggunaan energi, palpitasis, tremor, transpirasi dan diare akibat peningkatan pristaltik.
- Gejala terpenting efek jantung (takikardi, atriumfibrilasi), struma serta bola mata menonjol secara abnormal, sirkulasi yang hiperkinetik.
- Pemeriksaan laboratorium penunjang yang menunjukkan kadar T3 dan T4 meningkat dan Indeks Tiroksin Bebas.

Diagnosis
Diagnosis tirotoksikosis sering dapat ditegakkan secara klinis tanpa pemeriksaan laboratorium, namun pemeriksaan ini perlu untuk menilai kemajuan terapi.
Ukur TSH (dapat menurun) dan kadar tiroksin (T4) (mungkin meningkat)

Penatalaksanan
- Penggunaan obat antitiroid seperti:
§ Propiltiourasil (PTU), dosis permulaan 70 – 200 mg 3 x sehari selama 6 – 8 minggu, pemeliharaan 50 – 300 mg/hari.
§ Pada keadaan krisis dapat diberikan propranolol 60 – 120 mg 4 x sehari.
§ Kegagalan terapi umumnya karena ketidak patuhan penderita makan obat, karena itu penderita perlu diperiksa ulang setiap 2 minggu pada 2 bulan pertama, kemudian setiap bulan sampai pengobatan selesai.
- Propanolol 20 mg 3 x sehari sebelum makan kadang diperlukan untuk mengurangi beberapa keluhan seperti takikardi dan kegelisahan. Beta bloker ini mengurangi efek tiroksin dijaringan perifer dengan cara blokade susunan saraf pusat.


Sumber: Departemen Kesehatan RI, 2007, Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007, Cetakan Tahun 2008, Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar