Pages - Menu

Tampilkan postingan dengan label PEDOMAN PENGOBATAN DASAR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PEDOMAN PENGOBATAN DASAR. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Juli 2011

PERDARAHAN POST PARTUM

Definisi
Perdarahan post partum adalah perdarahan melebihi 500 ml yang terjadi setelah bayi lahir.
Perdarahan post partum dini yaitu perdarahan setelah bayi lahir dalam 24 jam pertama persalinan dan perdarahan post partum lanjut yaitu perdarahan setelah 24 jam persalinan.

Penyebab
Perdarahan post partum dapat disebabkan oleh atonia uteri, robekan jalan lahir, retensio plasenta, sisa plasenta dan kelainan pembekuan darah.

Gambaran Klinis
Dalam persalinan sukar untuk menentukan jumlah darah secara akurat karena tercampur dengan air ketuban dan serapan pada pakaian atau kain alas. Oleh karena itu bila terdapat perdarahan lebih banyak dari normal, sudah dianjurkan untuk melakukan pengobatan sebagai perdarahan post partum.

Diagnosis

GEJALA DAN TANDA

TANDA DAN
GEJALA LAIN

DIAGNOSIS
KERJA

· Uterus tidak berkontraksi dan lembek
· Perdarahan segera setelah
anak lahir

· Syok
· Bekuan darah pada serviks atau posisi terlentang akan menghambat aliran darah ke luar

Atonia uteri

· Darah segar yang mengalir segera setelah bayi lahir
· Uterus kontraksi dan keras
· Plasenta lengkap

· Pucat
· Lemah
· Menggigil

Robekan jalan lahir

· Plasenta belum lahir
setelah 30 menit
· Perdarahan segera (P3)
· Uterus berkontraksi dan
keras

· Tali pusat putus akibat traksi
berlebihan
· Inversio uteri akibat tarikan
· Perdarahan lanjutan

Retensio plasenta

· Plasenta atau sebagian
selaput (mengandung
pembuluh darah) tidak
lengkap
· Perdarahan segera (P3)

· Uterus berkontraksi tetapi tinggi fundus tidak berkurang

Tertinggalnya
sebagian plasenta
atau ketuban

· Uterus tidak teraba
· Lumen vagina terisi masa
· Tampak tali pusat (bila
plasenta belum lahir)

· Neurogenik syok
· Pucat dan limbung

Inversio uteri

· Sub-involusi uterus
· Nyeri tekan perut bawah
dan pada uterus
· Perdarahan
· Lokhia mukopurulen dan
berbau

· Anemia
· Demam

Endometristis atau
sisa fragmen
plasenta (terinfeksi
atau tidak)
Late postpartum
hemorrhage

Perdarahan
postpartum
sekunder

PENGELOLAAN UMUM
· Selalu siapkan tindakan gawat darurat
· Tata laksana persalinan kala III secara aktif
· Minta pertolongan pada petugas lain untuk membantu bila dimungkinkan
· Lakukan penilaian cepat keadaan umum ibu meliputi kesadaran nadi, tekanan darah, pernafasan dan suhu
· Jika terdapat syok lakukan segera penanganan
· Periksa kandung kemih, bila penuh kosongkan
· Cari penyebab perdarahan dan lakukan pemeriksaan untuk menentukan penyebab perdarahan

PENGELOLAAN KHUSUS
ATONIA UTERI
Atonia uteri terjadi bila miometrium tidak berkontraksi. Uterus menjadi lunak dan pembuluh darah pada daerah bekas perlekatan plasenta terbuka lebar. Atonia merupakan penyebab tersering perdarahan postpartum, sekurang-kurangnya 2/3
dari semua perdarahan postpartum disebabkan oleh atonia uteri. Upaya penanganan perdarahan postpartum disebabkan atonia uteri harus dimulai dengan mengenal ibu yang memiliki kondisi yang berisiko terjadinya atonia uteri.
Kondisi ini mencakup:
1. Hal-hal yang menyebabkan uterus meregang lebih dari kondisi normal seperti pada:
· Polihidramnion
· Kehamilan kembar
· Makrosomi
2. Persalinan lama
3. Persalinan terlalu cepat
4. Persalinan dengan induksi atau akselerasi oksitosin
5. Infeksi intrapartum
6. Paritas tinggi
Jika seorang wanita memiliki salah satu dari kondisi-kondisi yang berisiko ini, maka penting bagi penolong persalinan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya atoni uteri postpartum. Meskipun demikian, 20% atoni uteri postpartum dapat terjadi pada ibu tanpa faktor-faktor risiko ini. Adalah penting bagi semua penolong persalinan untuk mempersiapkan diri dalam melakukan penatalaksanaan awal terhadap masalah yang mungkin terjadi selama proses persalinan.
Jika tidak mempunyai kemampuan dan fasilitas, semua keadaan di atas sebaiknya segera dirujuk ke dokter spesialis obgyn / Rumah Sakit.
Langkah berikutnya dalam upaya mencegah atonia uteri ialah melakukan penanganan kala tiga secara aktif, yaitu:
1. Menyuntikan Oksitosin
· Memeriksa fundus uteri untuk memastikan kehamilan tunggal.
· Menyuntikkan Oksitosin 10 IU secara intramuskuler pada bagian luar paha kanan 1/3 atas setelah melakukan aspirasi terlebih dahulu untuk memastikan bahwa ujung jarum tidak mengenai pembuluh darah.

2. Peregangan Tali Pusat Terkendali
· Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5 – 10 cm dari vulva atau menggulung tali pusat
· Meletakkan tangan kiri di atas simpisis menahan bagian bawah uterus, sementara tangan kanan memegang tali pusat menggunakan klem atau kain kasa dengan jarak 5 – 10 cm dari vulva
· Saat uterus kontraksi, menegangkan tali pusat dengan tangan kanan sementara tangan kiri menekan uterus dengan hati-hati ke arah dorsokranial
3. Mengeluarkan plasenta
· Jika dengan penegangan tali pusat terkendali tali pusat terlihat bertambah panjang dan terasa adanya pelepasan plasenta, minta ibu untuk meneran sedikit sementara tangan kanan menarik tali pusat ke arah bahwa kemudian ke atas sesuai dengan kurve jalan lahir hingga plasenta tampak pada vulva.
· Bila tali pusat bertambah panjang tetapi plasenta belum lahir, pindahkan kembali klem hingga berjarak ± 5 – 10 dari vulva.
· Bila plasenta belum lepas setelah mencoba langkah tersebut selama 15 menit
· Suntikkan ulang 10 IU Oksitosin i.m
· Periksa kandung kemih, lakukan kateterisasi bila penuh
· Tunggu 15 menit, bila belum lahir lakukan tindakan plasenta manual
4. Setelah plasenta tampak pada vulva, teruskan melahirkan plasenta dengan hati-hati.
· Bila terasa ada tahanan, penegangan plasenta dan selaput secara perlahan dan sabar untuk mencegah robeknya selaput ketuban.
5. Masase Uterus
· Segera setelah plasenta lahir, melakukan masase pada fundus uteri dengan menggosok fundus secara sirkuler menggunakan bagian palmar 4 jari tangan kiri hingga kontraksi uterus baik (fundus teraba keras)
6. Memeriksa kemungkinan adanya perdarahan pasca persalinan
· Kelengkapan plasenta dan ketuban
· Kontraksi uterus
· Perlukaan jalan lahir

Jenis uterotonika dan cara pemberiannya

JENIS DAN
CARA

OKSITOSIN

ERGOMETRIN

Dosis dan cara
pemberian

IV : 20 IU dalam 1 l
larutan garam fisio logis
dengan tetesan cepat
IM : 10 IU

IM atau IV (lambat) :
0.2 mg

Dosis lanjutan

IV : 20 IU dalam 1 l
larutan garam fisiologis
dengan 40 tetes / menit

Ulangi 0.2 mg IM
setelah 15 menit

Dosis maksimal
per hari

Tidak lebih dari 3 l
larutan dengan Oksitosin

Total 1 mg atau 5 dosis
Kontra Indikasi

Pemberian IV secara
cepat atau bolus

Preeklampsia, vitium
cordis, hipertensi

 

PERLUKAAN JALAN LAHIR
Perdarahan dalam keadaan di mana plasenta telah lahir lengkap dan kontraksi rahim baik, dapat dipastikan bahwa perdarahan tersebut berasal dari perlukaan jalan lahir. Perlukaan jalan terdiri dari:
a. Robekan perineum
b. Hematoma vulva
c. Robekan dinding vagina
d. Robekan serviks
e. Ruptura uteri
Robekan Perineum
Dibagi atas 4 tingkat :
Tingkat I : robekan hanya pada selaput lendir vagina dengan atau tanpa mengenai kulit perineum
Tingkat II : robekan mengenai selaput lendir vagina dan otot perinei transversalis, tetapi tidak mengenai sfingter ani

Tingkat III : robekan mengenai seluruh perineum dan otot sfingter ani
Tingkat IV : robekan sampai mukosa rektum

Kolporeksis adalah suatu keadaan di mana terjadi robekan di vagina bagian atas, sehingga sebagian serviks uteri dan sebagian uterus terlepas dari vagina. Robekan ini memanjang atau melingkar.
Robekan serviks dapat terjadi di satu tempat atau lebih. Pada kasus partus presipitatus, persalinan sungsang, plasenta manual, terlebih lagi persalinan operatif pervaginam harus dilakukan pemeriksaan dengan spekulum keadaan jalan lahir termasuk serviks.

Pengelolaan
d. Episiotomi, robekan perineum dan robekan vulva
Ketiga jenis perlukaan tersebut harus dijahit.
1. Robekan perineum tingkat I
Penjahitan robekan perineum tingkat I dapat dilakukan dengan memakai catgut yang dijahitkan secara jelujur atau dengan cara jahitan angka delapan (figure of eight).
2. Robekan perineum tingkat II
Sebelum dilakukan penjahitan pada robekan perineum tingkat I atau tingkat II, jika dijumpai pinggir robekan yang tidak rata atau bergerigi, maka pinggir yang bergerigi tersebut harus diratakan terlebih dahulu. Pinggir robekan sebelah kiri dan kanan masing-masing dijepit dengan klem terlebih dahulu, kemudian digunting. Setelah pinggir robekan rata, baru dilakukan penjahitan luka robekan.
Mula-mula otot-otot dijahit dengan catgut, kemudian selaput lendir vagina dijahit dengan catgut secara terputus-putus atau jelujur. Penjahitan mukosa vagina dimulai dari puncak robekan. Sampai kulit perineum dijahit dengan benang catgut secara jelujur.
3. Robekan perineum tingkat III
Pada robekan tingkat III mula-mula dinding depan rektum yang robek dijahit, kemudian fasial perirektal dan fasial septum rektovaginal dijahit dengan catgut kromik, sehingga bertemu kembali. Ujung-ujung otot sfingter ani yang terpisah akibat robekan dijepit dengan klem / pean lurus, kemudian dijahit dengan 2 – 3 jahitan catgut kromik sehingga
bertemu lagi. Selanjutnya robekan dijahit lapis demi lapis seperti menjahit robekan perineum tingkat II.

4. Robekan perineum tingkat IV
Pada robekan perineum tingkat IV karena tingkat kesulitan untuk melakukan perbaikan cukup tinggi dan resiko terjadinya gangguan berupa gejala sisa dapat menimbulkan keluhan sepanjang kehidupannya, maka dianjurkan apabila memungkinkan untuk melakukan rujukan dengan rencana tindakan perbaikan di rumah sakit kabupaten/kota.
e. Hematoma vulva
1. Penanganan hematoma tergantung pada lokasi dan besar hematoma.
Pada hematoma yang kecil, tidak perlu tindakan operatif, cukup dilakukan kompres.
2. Pada hematoma yang besar lebih-lebih disertai dengan anemia dan presyok, perlu segera dilakukan pengosongan hematoma tersebut.
Dilakukan sayatan di sepanjang bagian hematoma yang paling terenggang. Seluruh bekuan dikeluarkan sampai kantong hematoma kosong. Dicari sumber perdarahan, perdarahan dihentikan dengan mengikat atau menjahit sumber perdarahan tersebut. Luka sayatan kemudian dijahit. Dalam perdarahan difus dapat dipasang drain atau dimasukkan kasa steril sampai padat dan meninggalkan ujung kasa tersebut diluar.

f. Robekan dinding vagina
1. Robekan dinding vagina harus dijahit.
2. Kasus kolporeksis dan fistula visikovaginal harus dirujuk ke rumah sakit.

g. Robekan serviks
Robekan serviks paling sering terjadi pada jam 3 dan 9. Bibir depan dan bibir belakang serviks dijepit dengan klem Fenster. Kemudian serviks ditarik sedikit untuk menentukan letak robekan dan ujung robekan. Selanjutnya robekan dijahit dengan catgut kromik dimulai dari ujung robekan untuk menghentikan perdarahan.

RETENSIO PLASENTA
Retensio plasenta ialah plasenta yang belum lahir dalam setengah jam setelah janin lahir.
Plasenta yang belum lahir dan masih melekat di dinding rahim oleh karena kontraksi rahim kurang kuat untuk melepaskan plasenta disebut plasenta adhesiva. Plasenta yang belum lahir dan masih melekat di dinding rahim oleh karena villi korialisnya menembus desidua sampai miometrium disebut plasenta akreta. Plasenta yang sudah lepas dari dinding rahim tetapi belum lahir karena terhalang oleh lingkaran konstriksi di bagian bawah rahim disebut plasenta inkarserata.
Perdarahan hanya terjadi pada plasenta yang sebagian atau seluruhnya telah lepas dari dinding rahim. Banyak atau sedikitnya perdarahan tergantung luasnya bagian plasenta yang telah lepas dan dapat timbul perdarahan. Melalui periksa dalam atau tarikan pada tali pusat dapat diketahui apakah plasenta sudah lepas atau belum dan bila lebih dari 30 menit maka kita dapat melakukan plasenta manual.
Prosedur plasenta manual sebagai berikut:
· Sebaiknya pelepasan plasenta secara manual dilakukan dalam narkosis, karena relaksasi otot memudahkan pelaksanaannya terutama bila retensi telah lama. Sebaiknya juga dipasang infus NaCl 0,9% sebelum tindakan dilakukan. Setelah desinfektan tangan dan vulva termasuk daerah seputarnya, labia dibeberkan dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan dimasukkan secara obstetrik ke dalam vagina.
· Sekarang tangan kiri menahan fundus untuk mencegah kolporeksis. Tangan kanan dengan posisi obstetrik menuju ke ostium uteri dan terus ke lokasi plasenta; tangan dalam ini menyusuri tali pusat agar tidak terjadi salah jalan (false route).
· Supaya tali pusat mudah diraba, dapat diregangkan oleh pembantu (asisten).
Setelah tangan dalam sampai ke plasenta, maka tangan tersebut dipindahkan ke pinggir plasenta dan mencari bagian plasenta yang sudah lepas untuk menentukan bidang pelepasan yang tepat. Kemudian dengan sisi tangan kanan sebelah kelingking (ulner), plasenta dilepaskan pada bidang antara bagian plasenta yang sudah terlepas dan dinding rahim dengan gerakan yang sejajar dengan dinding rahim. Setelah seluruh plasenta terlepas, plasenta dipegang dan dengan perlahan-lahan ditarik keluar.
· Kesulitan yang mungkin dijumpai pada waktu pelepasan plasenta secara manual ialah adanya lingkaran konstriksi yang hanya dapat dilalui dengan dilatasi oleh tangan dalam secara perlahan-lahan dan dalam nakrosis yang dalam. Lokasi plasenta pada dinding depan rahim juga sedikit lebih sukar dilepaskan daripada lokasi di dinding belakang. Ada kalanya plasenta tidak dapat dilepaskan secara manual seperti halnya pada plasenta akreta, dalam hal ini tindakan dihentikan.
Setelah plasenta dilahirkan dan diperiksa bahwa plasenta lengkap, segera dilakukan kompresi bimanual uterus dan disuntikkan Ergometrin 0.2 mg i.m atau i.v sampai kontraksi uterus baik. Pada kasus retensio plasenta, risiko atonia uteri tinggi oleh karena itu harus segera dilakukan tindakan pencegahan perdarahan postpartum.
Apabila kontraksi rahim tetap buruk, dilanjutkan dengan tindakan sesuai prosedur tindakan pada atonia uteri.
Plasenta akreta ditangani dengan histerektomi oleh karena itu harus dirujuk ke rumah sakit.

SISA PLASENTA
Sisa plasenta dan ketuban yang masih tertinggal dalam rongga rahim dapat menimbulkan perdarahan postpartum dini atau perdarahan pospartum lambat (biasanya terjadi dalam 6 – 10 hari pasca persalinan). Pada perdarahan postpartum dini akibat sisa plasenta ditandai dengan perdarahan dari rongga rahim setelah plasenta lahir dan kontraksi rahim baik. Pada perdarahan postpartum lambat gejalanya sama dengan subinvolusi rahim yaitu perdarahan yang berulang atau berlangsung terus dan berasal dari rongga rahim. Perdarahan akibat sisa plasenta jarang menimbulkan syok.
Penilaian klinis sulit untuk memastikan adanya sisa plasenta, kecuali apabila penolong persalinan memeriksa kelengkapan plasenta setelah plasenta lahir.
Apabila kelahiran plasenta dilakukan oleh orang lain atau terdapat keraguan akan sisa plasenta, maka untuk memastikan adanya sisa plasenta ditentukan dengan eksplorasi dengan tangan, kuret atau alat bantu diagnostik yaitu ultrasonografi.
Pada umumnya perdarahan dari rongga rahim setelah plasenta lahir dan kontraksi rahim baik dianggap sebagai akibat sisa plasenta yang tertinggal dalam rongga rahim.

Pengelolaan
1. Pada umumnya pengeluaran sisa plasenta dilakukan dengan kuretase.
Dalam kondisi tertentu apabila memungkinkan, sisa plasenta dapat dikeluarkan secara manual.
Kuretase harus dilakukan di rumah sakit dengan hati-hati karena dinding rahim relatif tipis dibandingkan dengan kuretase pada abortus.
2. Setelah selesai tindakan pengeluaran sisa plasenta, dilanjutkan dengan pemberian obat uterotonika melalui suntikan atau per oral.
3. Antibiotika dalam dosis pencegahan sebaiknya diberikan.

 

Sumber: Departemen Kesehatan RI, 2007, Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007, Cetakan Tahun 2008, Jakarta

HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN

Definisi
Hipertensi yang terjadi selama kehamilan

Penyebab
Belum diketahui secara pasti

Gambaran Klinis
· Tekanan darah diastolik merupakan indikator dalam penanganan hipertensi dalam kehamilan, oleh karena tekanan diastolik mengukur tahanan perifer dan tidak tergantung pada keadaan emosional pasien ·

Diagnosis hipertensi dibuat jika tekanan darah diastolik > 90 mmHg pada 2 pengukuran berjarak 1 jam atau lebih
· Hipertensi dalam kehamilan dapat dibagi dalam:
- Hipertensi karena kehamilan, jika hipertensi terjadi pertama kali sesudah kehamilan 20 minggu, selama persalinan dan/atau dalam 48 jam post partum
- Hipertensi kronik, jika hipertensi terjadi sebelum kehamilan 20 minggu

Diagnosis

HIPERTENSI
KARENA
KEHAMILAN

TEKANAN DARAH

TANDA LAIN

- Hipertensi

Tekanan diastolik > 90 mmHg
atau kenaikan 15 mmHg dalam
2 pengukuran berjarak 1 jam

Proteinuri (-)
Kehamilan > 20
minggu

- Preeklampsia
Ringan

Idem Proteinuria 1+

- Preeklampsia
Berat

Tekanan diastolik > 110
mmHg

Proteinuria 2+Oliguria
Hiper-refleksia
Gangguan penglihatan
Nyeri epigastrium

- Eklampsia Hipertensi Kejang

 

HIPERTENSI
KRONIK

TEKANAN DARAH

TANDA LAIN

- Hipertensi
kronik

Hipertensi

Kehamilan < 20
minggu

- Superimposed
preeclampsia

Hipertensi kronik

Proteinuria dan tanda
lain dari preeklampsia

HIPERTENSI KARENA KEHAMILAN
- Lebih sering terjadi pada primigravida. Keadaan patologis telah terjadi sejak implantasi, sehingga timbul iskemia plasenta yang kemudian diikuti dengan sindroma inflamasi.
- Risiko meningkat pada:
1. Masa plasenta besar (gemelli, penyakit trofoblast)
2.Hidramnion
3.Diabetes melitus
4.Isoimunisasi rhesus
5.Faktor herediter
6.Autoimun: SLE
- Hipertensi karena kehamilan:
1. Hipertensi tanpa proteinuria atau edema
2. Preeklampsia ringan
3. Preeklampsia berat
4. Eklampsia
- Hipertensi dalam kehamilan dan preeklampsia ringan sering ditemukan tanpa gejala, kecuali peningkatan tekanan darah. Prognosis menjadi lebih buruk dengan terdapatnya proteinuria. Edema tidak lagi menjadi suatu tanda yang sahih untuk preeklampsia.
- Preeklampsia Berat didiagnosis pada kasus dengan salah satu gejala berikut:
1. Tekanan darah diastolik > 110 mmHg
2. Proteinuria • 2+
3. Oliguria < 400 ml per 24 jam
4. Edema paru: nafas pendek, sianosis dan adanya ronkhi
5. Nyeri daerah epigastrium atau kuadran atas kanan perut
6. Gangguan penglihatan: skotoma atau penglihatan yang berkabut

7. Nyeri kepala hebat yang tidak berkurang dengan pemberian analgetika biasa
8. Hiperrefleksia
9. Mata: spasme arteriolar, edema, ablasio retina
10. Koagulasi: koagulasi intravaskuler disseminata, sindrom HELLP
11. Pertumbuhan janin terhambat
12. Otak: edema serebri
13. Jantung: gagal jantung
- Eklampsia ditandai oleh gejala preeklampsia berat dan kejang
1.  Kejang dapat terjadi dengan tidak tergantung pada beratnya hipertensi
2.  Kejang bersifat tonik-klonik, menyerupai kejang pada epilepsy grand mal
3.  Koma terjadi setelah kejang dan dapat berlangsung lama (beberapa jam)

HIPERTENSI KRONIK
- Hipertensi kronik dideteksi sebelum usia kehamilan 20 minggu
- Superimposed preeclampsia adalah hipertensi kronik dan preeklampsia

Penatalaksanaan
HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN TANPA PROTEINURIA
Jika kehamilan < 35 minggu, lakukan pengelolaan rawat jalan:
- Lakukan pemantauan tekanan darah, proteinuria dan kondisi janin setiap minggu.
- Jika tekanan darah meningkat, kelola sebagai preeklampsia.
- Jika kondisi janin memburuk atau terjadi pertumbuhan janin yang terhambat, rawat dan pertimbangkan terminasi kehamilan.
PREEKLAMPSIA RINGAN
A. Jika kehamilan < 35 minggu dan tidak terdapat tanda perbaikan selama ANC
A1. Lakukan penilaian 2 kali seminggu secara rawat jalan:
- Lakukan pemantauan tekanan darah, proteinuria, refleks dan kondisi janin
- Lebih banyak istirahat
- Diet biasa
- Tidak perlu pemberian obat

A2. Jika tidak memungkinkan rawat jalan, rawat di rumah sakit:
- Diet biasa
- Lakukan pemantauan tekanan darah 2 kali sehari, proteinuria 1 kali sehari
- Tidak memerlukan pengobatan
- Tidak memerlukan diuretik, kecuali jika terdapat edema paru, dekompensasi jantung atau gagal ginjal akut
- Jika tekanan diastolik turun sampai normal, pasien dapat dipulangkan:
- Nasehatkan untuk istirahat dan perhatikan tanda preeklampsia berat
- Periksa ulang 2 kali seminggu
- Jika tekanan diastolik naik lagi rawat kembali
- Jika tidak terdapat tanda perbaikan tetap dirawat
- Jika terdapat tanda pertumbuhan janin terhambat, pertimbangkan terminasi kehamilan
- Jika proteinuria meningkat, kelola sebagai preeklampsia berat
B. Jika kehamilan > 35 minggu, pertimbangkan terminasi kehamilan
- Jika serviks matang, lakukan induksi dengan Oksitosin 5 IU dalam 500 ml Ringer Laktat/ Dekstrose 5% i.v 10 tetes/menit atau dengan prostaglandin
- Jika serviks belum matang, berikan prostaglandin, misoprostol atau kateter Foley atau lakukan terminasi dengan seksio sesarea
PREEKLAMPSIA BERAT DAN EKLAMPSIA
Penanganan preeklampsia berat dan eklampsia sama, kecuali bahwa persalinan harus berlangsung dalam 6 jam setelah timbulnya kejang pada eklampsia.
Pengelolaan kejang:
- Beri obat anti kejang (anti konvulsan)
- Perlengkapan untuk penanganan kejang (jalan nafas, penghisap lendir, masker oksigen, oksigen)
- Lindungi pasien dari kemungkinan trauma
- Aspirasi mulut dan tenggorokan
- Baringkan pasien pada sisi kiri, posisi Trendelenburg untuk mengurangi risiko aspirasi
- Berikan O2 4 – 6 liter/menit

Pengelolaan umum
- Jika tekanan diastolik > 110 mmHg, berikan antihipertensi sampai tekanan diastolik antara 90 – 100 mmHg
- Pasang infus Ringer Laktat dengan jarum besar no.16 atau lebih
- Ukur keseimbangan cairan, jangan sampai terjadi overload
- Kateterisasi urin untuk pengukuran volume dan pemeriksaan proteinuria
- Infus cairan dipertahankan 1.5 – 2 liter/24 jam
- Jangan tinggalkan pasien sendirian. Kejang disertai aspirasi dapat mengakibatkan kematian ibu dan janin
- Observasi tanda vital, refleks dan denyut jantung janin setiap 1 jam
- Auskultasi paru untuk mencari tanda edema paru. Adanya krepitasi merupakan tanda adanya edema paru. Jika ada edema paru, hentikan pemberian cairan dan berikan diuretik (mis. Furosemide 40 mg i.v)
- Nilai pembekuan darah dengan uji pembekuan. Jika pembekuan tidak terjadi setelah 7 menit, kemungkinan terdapat koagulopati

Anti konvulsan
Magnesium sulfat (MgSO4) merupakan obat pilihan untuk mencegah dan
mengatasi kejang pada preeklampsia dan eklampsia. Alternatif lain adalah
diazepam, dengan risiko terjadinya depresi neonatal.

 

MAGNESIUM SULFAT UNTUK PREEKLAMPSIA DAN
EKLAMPSIA

Alternatif I
Dosis awal

· MgSO4 4 g i.v sebagai larutan 40% selama 5 menit.
· Segera dilanjutkan dengan 15 ml MgSO4 (40%) 6 g dalam larutan Ringer Asetat / Ringer Laktat selama 6 jam
· Jika kejang berulang setelah 15 menit, berikan MgSO4 (40%) 2 g i.v selama 5 menit

Dosis Pemeliharaan ·

MgSO4 1 g / jam melalui infus Ringer Asetat / Ringer Laktat yang diberikan sampai 24 jam post partum

 

 

Alternatif II
Dosis awal

· MgSO4 4 g i.v sebagai larutan 40% selama 5 menit

Dosis pemeliharaan

· Diikuti dengan MgSO4 (40%) 5 g i.m dengan 1 ml Lignokain (dalam semprit yang sama) · Pasien akan merasa agak panas pada saat pemberian MgSO4

Sebelum pemberian                    · Frekuensi pernafasan minimal 16 kali/menit
MgSO4 ulangan,                         · Refleks patella (+)
lakukan                                       · Urin minimal 30 ml/jam dalam 4 jam terakhir
pemeriksaan:

Hentikan pemberian MgSO4, jika:

· Frekuensi pernafasan < 16 kali/menit
· Refleks patella (-)
· Bradipnea (<16 kali/menit)

Siapkan antidotum J

Jika terjadi henti nafas:
· Bantu pernafasan dengan ventilator
· Berikan Kalsium glukonas 1 g (20 ml dalam larutan 10%) i.v perlahan-lahan sampai
pernafasan mulai lagi

 

 

DIAZEPAM UNTUK PREEKLAMPSIA DAN EKLAMPSIA

Dosis awal

· Diasepam 10 mg i.v pelan-pelan selama 2 menit
· Jika kejang berulang, ulangi pemberian sesuai dosis awal

Dosis pemeliharaan

· Diasepam 40 mg dalam 500 ml larutan Ringer laktat melalui infus
· Depresi pernafasan ibu baru mungkin akan terjadi bila dosis > 30 mg/jam
· Jangan berikan melebihi 100 mg/jam

 

Anti hipertensi
- Obat pilihan adalah Nifedipin, yang diberikan 5 – 10 mg oral yang dapat diulang sampai 8 kali / 24 jam
- Jika respons tidak membaik setelah 10 menit, berikan tambahan 5 mg Nifedipin sublingual.
- Labetolol 10 mg oral. Jika respons tidak membaik setelah 10 menit, berikan lagi Labetolol 20 mg oral.

Persalinan
- Pada preeklampsia berat, persalinan harus terjadi dalam 24 jam, sedangkan pada eklampsia dalam 6 jam sejak gejala eklampsia timbul
- Jika terjadi gawat janin atau persalinan tidak dapat terjadi dalam 12 jam (pada eklampsia), lakukan seksio sesarea
- Jika seksio sesarea akan dilakukan, perhatikan bahwa :
1. Tidak terdapat koagulopati (koagulopati merupakan kontra indikasi anestesi spinal).
2. Anestesia yang aman / terpilih adalah anestesia umum untuk eklampsia dan spinal untuk PEB. Dilakukan anestesia lokal, bila risiko anestesi terlalu tinggi.
- Jika serviks telah mengalami pematangan, lakukan induksi dengan Oksitosin 2 –5 IU dalam 500 ml Dekstrose 10 tetes / menit atau dengan cara pemberian prostaglandin / misoprostol

Perawatan post partum
- Anti konvulsan diteruskan sampai 24 jam postpartum atau kejang yang terakhir
- Teruskan terapi hipertensi jika tekanan diastolik masih > 90 mmHg
- Lakukan pemantauan jumlah urin

Rujukan
Rujuk ke fasilitas yang lebih lengkap, jika:
- Terdapat oliguria (< 400 ml/24 jam)
- Terdapat sindroma HELLP (Haemolysis, Elevated Liver enzymes, Low Platellets count)
- Koma berlanjut lebih dari 24 jam setelah kejang

HIPERTENSI KRONIK
- Jika pasien sebelum hamil sudah mendapatkan pengobatan dengan obat anti hipertensi dan terpantau dengan baik, lanjutkan pengobatan tersebut
- Jika tekanan darah diastolik > 110 mmHg atau tekanan sistolik • 160 mmHg, berikan anti hipertensi
- Jika terdapat proteinuria, pikirkan superimposed preeklampsia
- Istirahat
- Lakukan pemantauan pertumbuhan dan kondisi janin
§ Jika tidak terdapat komplikasi, tunggu persalinan sampai aterm
§ Jika terdapat preeklampsia, pertumbuhan janin terhambat atau gawat janin, lakukan:
- Jika serviks matang, lakukan induksi dengan Oksitosin 2 – 5 IU dalam 500 ml Dekstrose melalui infus 10 tetes/menit atau dengan prostaglandin.
- Jika serviks belum matang, berikan prostaglandin, misoprostol atau kateter Foley
§ Observasi komplikasi seperti solusio plasenta atau superimposed preeklampsia.

 

Sumber: Departemen Kesehatan RI, 2007, Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007, Cetakan Tahun 2008, Jakarta

Jumat, 15 Juli 2011

TAENIASIS / SISTISERKOSIS

Definisi
Taeniasis ialah penyakit zoonosis parasitik yang disebabkan cacing dewasa Taenia (Taenia saginata, Taenia solium dan Taenia asiatica). Infeksi larva T. solium disebut sistiserkosis dengan gejala benjolan (nodul) di bawah kulit (subcutaneous cysticercosis). Bila infeksi larva Taenia solium di susunan saraf pusat disebut neurosistiserkosis dengan gejala utama epilepsi.

Penyebab
Cacing dewasa Taenia (Taenia saginata, Taenia solium dan Taenia asiatica); larva T. Solium.


Tanea saginata sepanjang lebih dari 4 meter


Penularan
Sumber penularan taeniasis adalah hewan terutama babi, sapi yang mengandung larva cacing pita (cysticercus). Sumber penularan sistiserkosis adalah penderita taeniasis solium sendiri yang tinjanya mengandung telur atau proglotid cacing pita dan mencemari lingkungan. Seseorang dapat terinfeksi cacing pita (taeniasis) bila makan daging yang mengandung larva yang tidak dimasak dengan sempurna, baik larva T.saginata yang terdapat pada daging sapi (cysticercus bovis) maupun larva T.solium (cysticercus cellulose) yang terdapat pada daging babi atau larva T.asiatica yang terdapat pada hati babi. Sistiserkosis terjadi apabila telur T.solium tertelan oleh manusia. Telur T. saginata dan T.asiatica tidak menimbulkan sistiserkosis pada manusia.
Sistiserkosis merupakan penyakit yang berbahaya dan merupakan masalah kesehatan
masyarakat di daerah endemis. Hingga saat ini kasus taeniasis / sistiserkosis telah banyak dilaporkan dan tersebar di beberapa propinsi di Indonesia, terutama di propinsi Papua, Bali dan Sumatera Utara.

Gambaran Klinis
- Masa inkubasi berkisar antara 8 – 14 minggu.
- Sebagian kasus taeniasis tidak menunjukkan gejala (asimtomatik).
- Gejala klinis dapat timbul sebagai akibat iritasi mukosa usus atau toksin yang dihasilkan cacing. Gejala tersebut antara lain rasa tidak nyaman di lambung, mual, badan lemah, berat badan menurun, napsu makan menurun, sakit kepala, konstipasi, pusing, diare dan pruritus ani.
- Pada sistiserkosis, biasanya larva cacing pita bersarang di jaringan otak sehingga
dapat mengakibatkan serangan epilepsi. Larva juga dapat bersarang di subkutan, mata, otot, jantung dan lain-lain.

Diagnosis
Diagnosis taeniasis dapat ditegakkan dengan anamnesis dan pemeriksaan tinja secara mikroskopis.
1. Adanya riwayat mengeluarkan proglotid (segmen) cacing pita baik pada waktu buang air besar maupun secara spontan.
2. Pada pemeriksaan tinja ditemukan telur cacing Taenia.

Penatalaksanaan
Pasien taeniasis diobati dengan prazikuantel dengan dosis 5 – 10 mg/kg BB dosis tunggal. Cara pemberian prazikuantel adalah sebagai berikut :
- Satu hari sebelum pemberian prazikuantel, penderita dianjurkan untuk makan makanan yang lunak tanpa minyak dan serat.
- Malam harinya setelah makan malam penderita menjalani puasa.
- Keesokan harinya dalam keadaan perut kosong penderita diberi prazikuantel.

- Dua sampai dua setengah jam kemudian diberikan garam Inggris (MgSO4), 30 gram untuk dewasa dan 15 gram atau 7,5 gram untuk anak anak, sesuai dengan umur yang dilarutkan dalam sirop (pemberian sekaligus).
- Penderita tidak boleh makan sampai buang air besar yang pertama. Setelah buang air besar penderita diberi makan bubur.
- Sebagian kecil tinja dari buang air besar pertama dikumpulkan dalam botol yang berisi formalin 5 – 10% untuk pemeriksaan telur Taenia sp. Tinja dari buang air besar pertama dan berikutnya selama 24 jam ditampung dalam baskom lalu disiram dengan air panas / mendidih, kemudian diayak dan disaring untuk mendapatkan proglotid dan skoleks Taenia sp. Jika terdapat cacing dewasa, cacing menjadi relaks dengan pemberian air panas.
- Proglotid dan skoleks dikumpulkan dan disimpan dalam botol yang berisi alkohol 70% untuk pemeriksaan morfologi yang sangat penting dalam identifikasi spesies cacing pita tersebut.
Pasien neurosistiserkosis sebaiknya dirujuk ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.

Pencegahan
- Menjaga kebersihan lingkungan dan pribadi.
- Mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar
- Tidak makan daging mentah atau setengah matang
- Buang air besar di jamban
- Memelihara ternak di kandang

 

Sumber: Departemen Kesehatan RI, 2007, Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007, Cetakan Tahun 2008, Jakarta

SISTOSOMIASIS

Definisi
Sistomiasis merupakan penyakit parasit (cacing) menahun yang hidup di dalam pembuluh darah vena, sistem peredaran darah hati, yaitu pada sistem vena porta, mesenterika superior. Dalam siklus hidupnya cacing ini memerlukan hospes perantara sejenis keong Oncomelania hupensis lindoensis yang bersifat amfibi.

Penyebab
Cacing trematoda. Penyakit ini ditularkan melalui bentuk infektif larvanya yang disebut sekaria yang sewaktu-waktu keluar dari keong tersebut di atas. Larva ini akan masuk ke dalam tubuh manusia melalui pori-pori kulit yang kontak dengan air yang mengandung sekaria. Penyakit ini telah lama diketahui terdapat di Indonesia, pertama kali dilaporkan pada tahun 1937 oleh Brug dan Tesch. Adapun cacing penyebabnya adalah Scistosoma japonicum. Daerah endemis sistosomiasis di Indonesia sampai saat ini terbatas pada daerah Lindu, Napu, dan Besoa di Propinsi Sulawesi Tengah.

Gambaran Klinis
- Masa tunas 4 – 6 minggu.
- Penderita memperlihatkan gejala umum berupa demam, urtikaria, mual, muntah, dan sakit perut. Kadang dijumpai sindrom disentri.
- Dermatitis sistosoma terjadi karena serkaria menembus ke dalam kulit.
- Pada tingkat lanjut telur yang terjebak dalam organ-organ menyebabkan mikroabses yang meninggalkan fibrosis dalam penyembuhannya. Maka dapat terjadi sirosis hepatitis, hepatosplenomegali, dan hipertensi portal yang dapat fatal.

Diagnosis
Diagnosis dapat ditegakkan bila ditemukan telur dalam tinja, atau biopsi rektum atau hati. Uji serologi memastikan diagnosis

Penatalaksanaan
Obat terpilih untuk sistosomiasis adalah prazikuantel, dosis tunggal.

 

Sumber: Departemen Kesehatan RI, 2007, Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007, Cetakan Tahun 2008, Jakarta

BATU SALURAN KEMIH

Definisi
Batu di dalam saluran kemih (kalkulus uriner) adalah massa keras seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih dan bisa menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran kemih atau infeksi.

Penyebab
Banyak faktor yang berpengaruh untuk timbulnya batu dalam saluran kemih, seperti kurang minum, gangguan metabolisme.

Gambaran klinis
- Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu ginjal) maupun di dalam kandung kemih (batu kandung kemih). Proses pembentukan batu ini disebut urolitiasis (litiasis renalis, nefrolitiasis).
- Batu, terutama yang kecil, bisa tidak menimbulkan gejala. Batu di saluran kemih sebelah atas menimbulkan kolik, sedangkan yang di bawah menghambat buang air kecil.
- Batu yang menyumbat ureter, pelvis renalis maupun tubulus renalis bisa menyebabkan nyeri punggung atau kolik renalis (nyeri kolik yang hebat di daerah antara tulang rusuk dan tulang pinggang, yang menjalar ke perut juga daerah kemaluan dan paha sebelah dalam).
- Gejala lainnya adalah mual dan muntah, perut menggelembung, demam, menggigil dan darah di dalam urin. Penderita mungkin menjadi sering buang air kecil, terutama ketika batu melewati ureter.
- Urin sering merah seperti air cucian daging dan pemeriksaan mikroskopis memperlihatkan banyak eritrosit dan kadang ada leukosit.
- Batu bisa menyebabkan infeksi saluran kemih. Jika batu menyumbat aliran kemih, bakteri akan terperangkap di dalam urin yang terkumpul di atas penyumbatan, sehingga terjadilah infeksi.
- Jika penyumbatan ini berlangsung lama, urin akan mengalir balik ke saluran di dalam ginjal, menyebabkan penekanan yang akan menggelembungkan ginjal (hidronefrosis) dan pada akhirnya bisa terjadi kerusakan ginjal.

Diagnosis
· Batu yang tidak menimbulkan gejala, mungkin akan diketahui secara tidak sengaja pada pemeriksaan analisa urin rutin (urinalisis).
· Batu yang menyebabkan nyeri biasanya didiagnosis berdasarkan gejala kolik renalis, disertai dengan adanya nyeri tekan di punggung dan selangkangan atau nyeri di daerah kemaluan tanpa penyebab yang jelas.
· Analisa urin mikroskopik bisa menunjukkan adanya darah, nanah atau kristal batu yang kecil. Biasanya tidak perlu dilakukan pemeriksaan lainnya, kecuali jika nyeri menetap lebih dari beberapa jam atau diagnosisnya belum pasti.
· Pemeriksaan tambahan yang bisa membantu menegakkan diagnosis adalah pengumpulan urin 24 jam dan pengambilan contoh darah untuk menilai kadar kalsium, sistin, asam urat dan bahan lainnya yang bisa menyebabkan terjadinya batu.

Penatalaksanaan
· Kolik diatasi dengan injeksi spasmolitik : atropin 0.5 - 1 mg i.m untuk dewasa.
· Bila terdapat infeksi perlu diberikan antibiotik : kotrimoksazol 2 x 2 tablet atau amoksisilin 500 mg peroral 3 x sehari untuk dewasa. Atau golongan lain yang bisa dipakai.
· Batu kecil yang tidak menyebabkan gejala penyumbatan atau infeksi, biasanya tidak perlu diobati.
· Minum banyak cairan akan meningkatkan pembentukan urin dan membantu membuang beberapa batu. Jika batu telah terbuang, maka tidak perlu lagi dilakukan pengobatan segera.
· Batu di dalam pelvis renalis atau bagian ureter paling atas yang berukuran 1 sentimeter atau kurang seringkali bisa dipecahkan oleh gelombang ultrasonik (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy, ESWL). Pecahan batu selanjutnya akan dibuang dalam urin.
· Segera rujuk ke rumah sakit jika terdapat indikasi operasi seperti :
o Batu > 5 mm
o Obstruksi sedang / berat
o Batu di saluran kemih proksimal
o Infeksi berulang
o Selama pengamatan batu tidak dapat turun

 

Sumber: Departemen Kesehatan RI, 2007, Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007, Cetakan Tahun 2008, Jakarta

ABSES GIGI

Definisi

Pengumpulan nanah yang telah menyebar dari sebuah gigi ke jaringan di sekitarnya, biasanya berasal dari suatu infeksi.

Penyebab
Abses ini terjadi dari infeksi gigi yang berisi cairan (nanah) dialirkan ke gusi sehingga gusi yang berada di dekat gigi tersebut membengkak.

Gambaran Klinis
- Pada pemeriksaan tampak pembengkakan disekitar gigi yang sakit. Bila abses terdapat di gigi depan atas, pembengkakan dapat sampai ke kelopak mata, sedangkan abses gigi belakang atas menyebabkan bengkak sampai ke pipi. Abses gigi bawah menyebabkan bengkak sampai ke dagu atau telinga dan submaksilaris.
- Penderita kadang demam, kadang tidak dapat membuka mulut lebar.
- Gigi goyah dan sakit saat mengunyah.

Diagnosis
Pembengkakan gusi dengan tanda peradangan di sekitar gigi yang sakit.

Penatalaksanaan
- Pasien dianjurkan berkumur dengan air hangat
- Simtomatik : Parasetamol (bila diperlukan)
Dewasa : 500 mg 3 x sehari,
anak-anak : 250 mg 3 x sehari.
- Jika jelas ada infeksi, dapat diberikan Amoksisilin selama 5 hari
Dewasa : 500 mg 3 x sehari,
anak-anak : 250 mg 3 x sehari.
- Bila ada indikasi, gigi harus dicabut setelah infeksi reda dan rujuk ke dokter gigi.

 

Sumber: Departemen Kesehatan RI, 2007, Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007, Cetakan Tahun 2008, Jakarta

Rabu, 13 Juli 2011

OKSIURIASIS

Definisi
Infeksi cacing kremi (oksiuriasis, enterobiasis) adalah infeksi parasit yang disebabkan Enterobius vermicularis. Parasit ini terutama menyerang anak-anak; cacing tumbuh dan berkembang biak di dalam usus.

Penyebab
Cacing kremi (Enterobius vermicularis).

Telur cacing kremi

Kepala cacing tambang tambang dewasa

Bagian ekor cacing tambang

Cacing kremi dewasa jantan



Gambaran klinis
- Rasa gatal hebat di sekitar anus, kulit di sekitar anus menjadi lecet atau kasar atau terjadi infeksi (akibat penggarukan).
- Rewel (karena rasa gatal).
- Kurang tidur (biasanya karena rasa gatal yang timbul pada malam hari ketika cacing betina bergerak ke daerah anus dan meletakkan telurnya disana).
- Napsu makan berkurang, berat badan menurun (jarang, tetapi dapat terjadi pada infeksi berat) rasa gatal atau iritasi vagina (pada anak perempuan, jika cacing masuk ke dalam vagina)

Diagnosis
Cacing kremi dapat dilihat dengan mata telanjang pada anus penderita, terutama dalam waktu 1 – 2 jam setelah anak tertidur pada malam hari. Cacing kremi aktif bergerak, berwarna putih dan setipis rambut. Telur maupun cacingnya bisa didapat dengan menempelkan selotip di lipatan kulit di sekitar anus, pada pagi hari sebelum anak terbangun. Kemudian selotip tersebut ditempelkan pada kaca objek dan diperiksa dengan mikroskop

Penatalakasanaan
- pirantel pamoat 10 mg/kgBB dosis tunggal diulang 2 minggu kemudian
- mebendazol 100 mg dosis tunggal diulang 2 minggu kemudian
- albendazol 400 mg dosis tunggal diulang 2 minggu kemudian

Penyuluhan
Seluruh anggota keluarga dalam satu rumah harus minum obat tersebut karena infeksi dapat menyebar dari satu orang kepada yang lainnya.

Pencegahan
- Mencuci tangan sebelum makan dan setelah buang air besar
- Memotong kuku dan menjaga kebersihan kuku
- Mencuci seprei minimal 2 kali/minggu
- Membersihkan jamban setiap hari
- Menghindari penggarukan daerah anus karena mencemari jari-jari tangan dan setiap benda yang dipegang/disentuhnya


Sumber: Departemen Kesehatan RI, 2007, Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007, Cetakan Tahun 2008, Jakarta
Sumber gambar: www.dpd.cdc.gov

Jumat, 01 Juli 2011

ASKARIASIS (Infeksi Cacing Gelang)

Definisi
Askariasis atau infeksi cacing gelang adalah penyakit  yang disebabkan oleh Ascaris lumbricoides. Askariasis adalah penyakit kedua terbanyak yang disebabkan oleh parasit.

Penyebab
Ascaris lumbricoides.

cacing ascaris lumbricoides betina dewasaGambar1. Cacing Ascaris Lumbricoides betina dewasa. Bandingkan panjang tubuhnya dengan penggaris dalam ukuran centimeter.

 

 

 

 

bagian mulut cacing ascaris lumbricoides

 

Gambar2. Bagian depan cacing Ascaris Lumbricoides dewasa

 

 

 

 

 

 

bagian ujung cacing ascaris lumbricoides dewasa

Gambar 3. Bagian ekor cacing Ascaris Lumbricoides dewasa

 

 


 

 

 

 

larva ascaris lumbricoides di jaringan paru

 

Gambar 4. Larva Ascaris Lumbricoides di jaringan paru

 

 

 

 

 

Telur Ascaris Lumbricides di jaringan appendiks

 

 

 

 

 

 

Gambar 5. Telur Ascaris lumbricoides pada biopsi appendiks

 

Gambaran klinis
- Infeksi cacing gelang di usus besar gejalanya tidak jelas. Pada infeksi masif dapat terjadi gangguan saluran cerna yang serius antara lain obstruksi total saluran cerna. Cacing gelang dapat bermigrasi ke organ tubuh lainnya misalnya saluran empedu dan menyumbat lumen sehingga berakibat fatal.
- Telur cacing menetas di usus menjadi larva yang kemudian menembus dinding usus, masuk ke aliran darah lalu ke paru dan menimbulkan gejala seperti batuk, bersin, demam, eosinofilia, dan pneumonitis askaris. Larva menjadi cacing dewasa di usus dalam waktu 2 bulan.

- Cacing dewasa di usus akan menyebabkan gejala khas saluran cerna seperti tidak napsu makan, mual, muntah.

- Pada infeksi berat, terutama pada anak dapat terjadi malabsorbsi sehingga memperberat keadaan malnutrisi. Sering kali infeksi ini baru diketahui setelah cacing keluar spontan bersama tinja atau dimuntahkan.
- Bila cacing dalam jumlah besar menggumpal dalam usus dapat terjadi obstruksi usus (ileus), yang merupakan kedaruratan dan penderita perlu dirujuk ke rumah sakit.

Diagnosis
Diagnosis askariasis ditegakkan dengan menemukan Ascaris dewasa atau telur Ascaris pada pemeriksaan tinja.

Penatalaksanaan
- Pirantel pamoat 10 mg/kgBB dosis tunggal
- Mebendazol 500 mg dosis tunggal (sekali saja) atau 100 mg 2 x sehari selama tiga hari berturut-turut
- Albendazol 400 mg dosis tunggal (sekali saja), tetapi tidak boleh digunakan selama hamil.

Pencegahan
1. Pengobatan masal 6 bulan sekali di daerah endemik atau di daerah yang rawan askariasis.
2. Penyuluhan kesehatan tentang sanitasi yang baik, hygiene keluarga dan hygiene pribadi seperti:
- Tidak menggunakan tinja sebagai pupuk tanaman.
- Sebelum melakukan persiapan makanan dan hendak makan, tangan dicuci terlebih dahulu dengan menggunakan sabun.
- Sayuran segar (mentah) yang akan dimakan sebagai lalapan, harus dicuci bersih dan disiram lagi dengan air hangat karena telur cacing Ascaris dapat hidup dalam tanah selama bertahun-tahun. 

lingkaran hidup ascaris lumbricoidesGambar 6. Lingkaran hidup cacing ascaris lumbricoides

 

 

 

 

 

 

 

 

 

- Buang air besar di jamban, tidak di kali atau di kebun.
Bila pasien menderita beberapa spesies cacing, askariasis harus diterapi lebih
dahulu dengan pirantel pamoat.

 

Sumber: Departemen Kesehatan RI, 2007, Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007, Cetakan Tahun 2008, Jakarta

Sumber gambar: www.dpd.cdc.gov

 

Entry terkait:

Ankilostomiasis (Infeksi Cacing Tambang)

Filariasis

ANKILOSTOMIASIS (Infeksi Cacing Tambang)

Definisi
Infeksi cacing tambang adalah penyakit yang disebabkan cacing Ancylostoma  duodenale dan / atau Necator americanus. Cacing tambang mengisap darah sehingga menimbulkan keluhan yang berhubungan dengan anemia, gangguan pertumbuhan terutama pada anak dan dapat menyebabkan retardasi mental.

Penyebab
Ancylostoma duodenale dan/atau Necator americanus.cacing tambang di usus besar

Gambaran klinis
- Masa inkubasi antara beberapa minggu sampai beberapa bulan tergantung dari beratnya infeksi dan keadaan gizi penderita.
- Pada saat larva menembus kulit, penderita dapat mengalami dermatitis. Ketika larva lewat di paru dapat terjadi batuk-batuk
- Akibat utama yang disebabkan cacing ini ialah anemia yang kadang demikian berat sampai menyebabkan gagal jantung.

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan menemukan telur dalam tinja segar atau biakan tinja dengan cara Harada-Mori.

Penatalaksanaan
- Pirantel pamoat 10 mg/kg BB per hari selama 3 hari.
- Mebendazol 500 mg dosis tunggal (sekali saja) atau 100 mg 2 x sehari selama tiga hari berturut-turut
- Albendazol 400 mg dosis tunggal (sekali saja), tetapi tidak boleh digunakan selama hamil.
- Sulfas ferosus 3 x 1 tablet untuk orang dewasa atau 10 mg/kg BB/kali (untuk anak) untuk mengatasi anemia.

Pencegahan
Pencegahan penyakit ini meliputi sanitasi lingkungan dan perbaikan higiene perorangan terutama penggunaan alas kaki.

 

Sumber: Departemen Kesehatan RI, 2007, Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007, Cetakan Tahun 2008, Jakarta

Sumber gambar: www.dpd.cdc.gov

Kamis, 30 Juni 2011

DEMAM REMATIK

bone painDefinisi
Demam rematik merupakan sindrom klinik akibat infeksi akut tenggorok oleh suatu penyakit sistemik yang dapat bersifat akut, subakut, kronik atau fulminan dan dapat terjadi setelah infeksi Streptococcus beta hemolyticus grup A yang terjadi 1 – 5 minggu sebelumnya pada saluran pernafasan bagian atas.
Pada dasarnya penyakit ini merupakan respon imun yang menyebabkan kelainan menetap di jantung (penyakit jantung reumatik) dan kelainan berpulih (reversibel) di sendi, kulit dan organ lainnya.

Penyebab
Interaksi antigen-antibodi 10 – 14 hari setelah infeksi Streptococcus pyogenes.

Gambaran Klinis
1. Kriteria Mayor
a. Karditis
b. Poliartritis migrans (berpindah-pindah)
c. Chorea secara khas ditandai oleh adanya gerakan tidak di sadari dan tidak bertujuan yang berlangsung cepat dan umumnya bersifat bilateral, meskipun dapat juga hanya mengenai satu sisi tubuh dan tidak terkendali. Eritema marginatum (tanda mayor demam rematik ini hanya ditemukan pada kasus yang berat).
d. Nodulus subkutan (tanda ini pada umumnya tidak akan ditemukan jika tidak terdapat karditis).
2. Kriteria Minor
a. Demam
b. Riwayat demam rematik
c. Artralgia / nyeri sendi
d. Peninggian LED
e. Peningkatan CRP serum atau lekositosis
f. Interval P-R yang memanjang pada EKG

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan bila ditemukan 2 kriteria mayor atau 1 kriteria mayor dan 2 kriteria minor. Selain itu, bukti adanya infeksi Streptococcus sebelumnya (peningkatan titer AST, kultur Streptococcus tenggorokan positif, baru saja menderita skarlatina) Ekokardiografi berguna dalam Diagnosis perikarditis dan penyakit katup (tak perlu untuk Diagnosis primer).

Penatalaksanaan
- Lakukan pengobatan awal
- Eradikasi Kuman secepatnya dilakukan segera setelah Diagnosis demam rematik dapat ditegakkan.
Obat pilihan pertama adalah :
* penisilin prokain 600.000 – 1,2 juta IU i.m atau penisilin V 500 mg 3 x sehari selama 10 hari
* eritromisin 2 gram/hari selama 10 hari bila penderita tidak tahan terhadap penisilin.
* Pada anak dosis penisilin prokain adalah 50.000 IU/kgBB/hari, dan eritromisin 125 – 250 mg 4 x sehari.
- Pemberian obat antiradang pada demam rematik dapat dilihat pada Tabel.

Manifestasi
Pengobatan

Dosis Obat

Artritis, dan/atau
karditis tanpa
kardiomegali

Salisilat 100 mg/kg/hari selama 2 minggu,
kemudian diturunkan menjadi 75 mg/kg/hari
selama 4 – 6 minggu.


Karditis dengan
kardiomegali atau
gagal jantung

Prednison 2 mg/kg/hari selama 2 minggu,
kemudian diturunkan 1 mg/kg/hari sampai habis
selama
2 minggu, ditambah dengan salisilat 75 mg/kg/hari
mulai minggu ke 3 selama 6 minggu.

- Penderita yang pernah menderita demam rematik, dengan atau tanpa adanya penyakit jantung rematik, sangat dianjurkan diberikan antibiotik profilaksis (secondary prophylaxis) untuk mencegah infeksi ulang saluran pernafasan oleh steptococcus group A.
* Pasien tanpa karditis dalam serangan pertama harus diberikan profilaksis minimum 5 tahun setelah serangan hingga minimum usia 18 tahun

* Pasien dengan karditis pada serangan pertama, harus diberikan profilaksi hingga usia 25 tahun
* Pasien yang menderita penyakit katup jantung rematik kronik, diberikan profilaksi jangka waktu lama hingga seumur hidup pada beberapa kasus.
* Profilaksis tetap diteruskan jika pasien hamil. Karena sulfonamides mempunyai risiko pada janin maka perlu diberikan alternatif penggantinya.
- Antibiotik profilaksis
* Benzatin benzilpenisilin
o Injeksi 1,44 g (=2,4 juta IU) (dalam 5 ml vial)
o anak kurang dari 30 kg : 600.000 IU i.m setiap 3 – 4 minggu
o anak dan dewasa > 30 kg : 1,2 juta IU i.m setiap 3 – 4minggu
* Fenoksimetilpenisilin
o Tablet 250 mg (bentuk garam)
o Suspensi oral 250 mg (bentuk garam, dalam setiap 5 ml)
o Anak < 2 tahun : 125 mg per oral setiap 12 jam
o Dewasa : 250 mg per oral setiap 12 jam
- Jika alergi terhadap penisilin dapat diberikan:
Eritromisin
Sediaan :
o Kapsul atau tablet 250 mg (stearat atau etil suksinat)
o Suspensi oral 125 mg (stearat atau etil suksinat)
- Semua penderita demam rematik harus dirujuk ke rumah sakit.

 

Sumber : Departemen Kesehatan RI, 2007, Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007, Cetakan Tahun 2008, Jakarta

Sumber gambar: www.medicinenet.com

HIPERTENSI

 

Definisi
Tekanan Darah Tinggi (hipertensi) adalah suatu peningkatan tekanan darah di dalam arteri. Secara umum, hipertensi merupakan suatuhigh-blood-pressure-s2-photo-of-hypertension-symptoms keadaan tanpa gejala, dimana tekanan yang abnormal tinggi di dalam arteri menyebabkan meningkatnya resiko terhadap stroke, aneurisma, gagal jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal.

Penyebab
1. Hipertensi primer : 90 – 95% tidak diketahui penyebabnya
2. Hipertensi sekunder : 5 – 10 %
- beberapa perubahan pada jantung dan pembuluh darah kemungkinan bersama-sama menyebabkan meningkatnya tekanan darah.
- penyakit ginjal
- kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya pil KB).
- feokromositoma, yaitu tumor pada kelenjar adrenal yang menghasilkan hormon epinefrin (adrenalin) atau norepinefrin (noradrenalin).
- Kegemukan (obesitas), gaya hidup yang tidak aktif (malas berolah raga), stres, alkohol atau garam dalam makanan
- Stres cenderung menyebabkan kenaikan tekanan darah untuk sementara waktu, jika stres telah berlalu, maka tekanan darah biasanya akan kembali normal.

Gambaran Klinik
- Tekanan darah dan jika pada pengukuran pertama memberikan hasil yang tinggi, maka tekanan darah diukur kembali dan kemudian diukur sebanyak 2 kali pada 2 hari berikutnya untuk meyakinkan adanya hipertensi. Hasil pengukuran bukan hanya menentukan adanya tekanan darah tinggi, tetapi juga digunakan untuk menggolongkan beratnya hipertensi.
- Klasifikasi Tekanan Darah Pada Dewasa

 

Tekanan Darah
Sistolik

Tekanan Darah
Diastolik

Stadium 1
(Hipertensi ringan)

140 - 159 mmHg

90 - 99 mmHg

Stadium 2
(Hipertensi sedang)

160 - 179 mmHg 100 - 109 mmHg

Stadium 3
(Hipertensi berat)

> 180 mmHg > 110 mmHg

 

Diagnosis
Tekanan darah diukur setelah seseorang duduk / berbaring 5 menit. Apabila pertama kali diukur tinggi (• 140/90 mmHg) maka pengukuran diulang 2 x pada 2 hari berikutnya untuk meyakinkan adanya hipertensi.

Penatalaksanaan
1. Langkah awal biasanya adalah mengubah pola hidup penderita:
· Menurunkan berat badan sampai batas ideal.
· Mengubah pola makan pada penderita diabetes, kegemukan atau kadar kolesterol darah tinggi.
· Mengurangi pemakaian garam sampai kurang dari 2,3 gram natrium atau 6 gram natrium klorida setiap harinya (disertai dengan asupan kalsium, magnesium dan kalium yang cukup) dan mengurangi alkohol.
· Olah raga aerobik yang tidak terlalu berat.
· Penderita hipertensi esensial tidak perlu membatasi aktivitasnya selama tekanan darahnya terkendali.
· Berhenti merokok.
2. Terapi obat pada hipertensi dimulai dengan salah satu obat berikut ini:
a. Hidroklorotiazid (HCT) 12,5 – 25 mg perhari dosis tunggal pada pagi hari (Pada hipertensi dalam kehamilan, hanya digunakan bila disertai hemokonsentrasi / udem paru)
b. Reserpin 0,1 – 0,25 mg sehari sebagai dosis tunggal
c. Propanolol mulai dari 10 mg 2 x sehari dapat dinaikkan 20 mg 2 x sehari (Kontra indikasi untuk penderita asma).
d. Kaptopril 12,5 – 25 mg 2 – 3 x sehari. (Kontraindikasi pada kehamilan selama janin hidup dan penderita asma).
e. Nifedipin mulai dari 5mg 2 x sehari, bisa dinaikkan 10 mg 2 x sehari.

 

Sumber: Departemen Kesehatan RI, 2007, Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007, Cetakan Tahun 2008, Jakarta

Rabu, 29 Juni 2011

XEROFTALMIA

Definisi
Xeroftalmia adalah kelainan mata akibat kekurangan vitamin A, terutama pada anak Balita dan sering ditemukan pada penderita gizi buruk dan gizi kurang.

Penyebab
Faktor yang menjadi penyebab tingginya kasus Xeroftalmia di Indonesia adalah:
- Konsumsi makanan yang kurang / tidak mengandung cukup Vitamin A atau pro vitamin A untuk jangka waktu lama
- Bayi tidak mendapatkan ASI Eksklusif
- Gangguan penyerapan vitamin A
- Tingginya angka infeksi pada anak (gastroenteritis / diare)

Gambaran Klinis
1. Gejala Reversible :
- buta senja (Hemeralopia)
- xerosis konjungtiva : yaitu konjungtiva yang kering, menebal, berkeriput, dan keruh karena banyak bercak pigmen
- xerosis kornea : konjungtiva kornea yang kering, menebal, berkeriput dan keruh karena banyak bercak pigmen
- bercak Bitot : benjolan berupa endapan kering dan berbusa yang berwarna abu-keperakan berisi sisa-sisa epitel konjungtiva yang rusak.
2. Gejala irreversible : ulserasi kornea dan sikatriks (scar)

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan mata.

Penatalaksanaan
- Berikan 200.000 IU Vitamin A secara oral atau 100.000 IU Vitamin A injeksi
- Hari berikutnya, berikan 200.000 IU Vitamin A secara oral
- 1 – 2 minggu berikutnya, berikan 200.000 IU Vitamin A secara oral
- Obati penyakit infeksi yang menyertai
- Obati kelainan mata, bila terjadi
- Perbaiki status gizi

Sumber: Departemen Kesehatan RI, 2007, Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007, Cetakan Tahun 2008, Jakarta

Selasa, 28 Juni 2011

VARISELA

Definisi
Varisela atau cacar air yang ditandai dengan vesikel di kulit dan selaput lendir ini sangat mudah menular melalui percikan ludah dan kontak. Penularan sudah dapat terjadi sejak 24 jam sebelum timbul kelainan kulit sampai 6 – 7 hari kemudian.

Penyebab
Virus Varicella zoster.

Gambaran klinis
- Masa inkubasi 13 – 17 hari.
- Gejala awal berupa pusing, sakit kepala, dan demam yang tidak begitu tinggi. Gejala ini tidak begitu jelas pada anak balita, tetapi menonjol pada anak usia diatas 10 tahun. Pada orang dewasa keluhan ini dapat berat sekali.
- Kelainan kulit muncul mula-mula seperti pada morbili, berupa makula dan papula yang kemudian menjadi vesikel berisi cairan jernih. Perubahan ini berlangsung dalam waktu 24 – 48 jam.
- Ruam biasanya lebih banyak di badan dibandingkan dengan di anggota gerak. Yang khas pada varisela ini adalah berbagai macam ruam dapat ditemukan dalam satu saat.
- Pada bentuk yang berat kelainan kulit timbul di seluruh tubuh.

Diagnosis
Berdasarkan gambaran klinis dengan bentuk rash yang karakteristik (fluorosensi yang sifatnya papulo vesikuler yang multiforme dan proses penjalarannya sentrifugal)

Penatalaksanaan
- Pengobatan yang diberikan hanya bersifat simtomatis: parasetamol bila demam sangat tinggi. Jangan memberikan asetosal pada anak, karena dapat menimbulkan sindrom reye.
- Pasien dianjurkan mandi dengan air dan sabun. Kalium permanganat dan antiseptik lain tidak dianjurkan.
- Kemudian beri bedak salisil 1%. Usahakan agar vesikel tidak pecah dan mengalami infeksi sekunder.
- Bila ada infeksi sekunder : suntikkan penisilin prokain 50.000 IU/kgBB/hari selama 3 hari atau beri amoksisilin 25 – 50 mg/kgBB/hari peroral.
- Penderita diperiksa ulang setelah seminggu.
- Bila perlu pemberian asiklovir 200 – 400 mg 5 x sehari pada awal penyakit selama 7 hari.


Sumber: Departemen Kesehatan RI, 2007, Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007, Cetakan Tahun 2008, Jakarta

URTIKARIA

Definisi
Merupakan suatu reaksi (alergi) pada kulit yang umumnya dalam bentuk udema lokal dan bersifat self-limited atau dapat sembuh sendiri dalam waktu singkat, meskipun beberapa dapat berkembang menjadi kronik. Urtikaria disebut akut jika berlangsung kurang dari 6 minggu, sedangkan urtikaria kronik biasanya keberlangsungannya lebih dari 6 minggu.

Penyebab
Sebagian besar penyebab urtikaria telah diketahui, di antaranya:
- Alergi terhadap obat, makanan, alergen inhalasi, gigitan atau sengatan serangga
- Penyakit infeksi (virus, parasit)
- Agen fisik (panas, dingin, penekanan, matahari)
- Penyakit sistemik (contoh: lupus eritematosus sistemik)

Gambaran Klinis
- Pasien merasa tidak sehat
- Bercak gatal putih sampai merah muda
- Lesi umumnya berwarna merah muda, udematus dengan berbagai bentuk dan ukuran dan di sekelilingnya eritema.
- Lesi umumnya memberi rasa gatal hingga nyeri dan seperti sensasi terbakar.
- Jarang bertahan > 12 – 24 jam
- Udem di saluran nafas menyebabkan sumbatan jalan nafas.

Diagnosis
Diagnosis urtikaria umumnya dapat ditegakkan secara klinis, kecuali terdapat diagnosis banding lain maka diagnosis disokong oleh hasil pemeriksaan histopatologis pada lesi urtikaria yang bertahan lebih dari 48 jam.

Penatalaksanaan
Terapi yang ideal adalah identifikasi dan menghilangkan penyebab (bila ditemukan).
Pengobatan sistemik
- Diberikan antihistamin (AH) konvensional atau generasi baru bergantung keadaan. Bila tidak berhasil, dosis dapat dinaikkan sampai batas dosis terapeutik yang aman. Bila masih tidak berhasil, dapat dikombinasikan 2 macam AH yang berbeda golongan. Bila tidak berhasil juga dapat diberikan kombinasi AH.
- Kortikosteroid sistemik diberikan bila terdapat angioudema atau keterlibatan organ lain, atau urtikaria luas (>50%), atau kegagalan pengobatan antihistamin. Prednison 20 – 40 mg/hari untuk pasien dewasa, diberikan dalam waktu singkat.
Pengobatan topikal
Dengan obat antipruritus.


Sumber: Departemen Kesehatan RI, 2007, Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007, Cetakan Tahun 2008, Jakarta

SERVICITIS KARENA CHLAMYDIA

Definisi
Uretritis adalah infeksi dari uretra, yaitu saluran yang membawa urin dari kandung kemih keluar tubuh.
Uretritis non-gonore (NGU) adalah uretritis yang disebabkan oleh berbagai mikroorganisme tetapi penyebab paling sering adalah klamidia.

Penyebab
Penyebabnya bisa berupa bakteri, jamur atau virus. Pada wanita jasad renik tersebut biasanya berasal dari vagina. Pada kebanyakan kasus, bakteri berasal dari usus besar dan sampai ke vagina melalui anus. Pria lebih jarang menderita uretritis.
Uretritis pada pria paling sering disebabkan oleh gonokokus. Klamidia dan virus herpes simpleks juga bisa ditularkan melalui hubungan seksual dan bisa menyebabkan uretritis.

Gambaran klinik
- Masa inkubasi infeksi klamidia sampai muncul gejala adalah 1 – 3 minggu, lebih lama daripada gonore. Sekitar 25% pria dan sebagian besar wanita tak mengalami gejala dini karena infeksi klamidia dan banyak yang menjadi carrier asimtomatik penyakit klamidia.
- Pada pria, uretritis ditandai oleh sekret yang jumlahnya sedikit, berair (kemudian mukus) dari uretra. Gejala lain adalah nyeri dan disuria. Pada wanita, ada disuria, polakisuria dan leukorea ringan. Servisitis adalah hal yang relatif sering ditemui. Hal ini bermanifestasi sebagai sekret mukopurulen dan edema atau kecenderungan perdarahan orifisium uteri.
- Pada wanita, infeksi klamidia yang lama sering mengakibatkan endometritis dan salpingitis. Pasien mungkin mengalami demam ringan atau nyeri abdomen bawah yang ringan. Endometritis juga dapat menyebabkan perdarahan uterus yang ireguler. PID (Pelvic Inflammation Disease) adalah komplikasi lanjut dari infeksi klamidia yang penting, biasanya memerlukan terapi rawat inap.
Perihepatitis adalah komplikasi yang jarang pada infeksi klamidia.
- Komplikasi lanjut infeksi klamidia yang rekuren dan ekstensif berupa kerusakan tuba yang kemudian menyebabkan infertilitas dan kehamilan ektopik.
- Infeksi klamidia dapat memicu perkembangan artritis reaktif (uroartritis, Reiter’s disease) pada pria dan wanita.
(Gambar lihat di sini)

Diagnosis
Diagnosis uretritis pada pria dapat ditegakkan dengan pemeriksaan pewarnaan Gram atau biru methylene dari sedian apus uretra. Bila jumlah lekosit PMN melebihi 5 pada pembesaran 1000 x merupakan indikasi uretritis.
Diagnosis infeksi klamidia yang reliabel pada pria dan wanita karena itu hanya dapat dicapai dengan pengambilan sampel mikrobiologis yang tepat. Metode amplifikasi gen yang baru telah menggantikan teknik-teknik sebelumnya, dan sampel urine first-void telah lebih berperan dalam diagnosis klamidia pada pria dan wanita. Metode amplifikasi gen seperti PCR dan LCR, didasarkan pada multiplikasi asam nukleat klamidia.

Penatalaksanaan
- Chlamydia trachomatis sensitif terhadap makrolida dan tetrasiklin. Klindamisin relatif efektif terhadap spesies ini, fluorokuinolon kurang begitu efektif. Sefalosporin dan penisilin memiliki efficacy yang buruk.
- Untuk pengobatan, tetrasiklin adalah antibiotik pilihan yang sudah digunakan sejak lama untuk infeksi genitalia yang disebabkan oleh C. trachomatis. Dapat diberikan dengan dosis 500 mg 4 x sehari selama 7 hari atau 250 mg 4 x sehari selama 14 hari.
- Analog dari tetrasiklin seperti doksisiklin dapat diberikan dengan dosis 100 mg 2 x sehari selama 7 hari. Obat ini yang paling banyak dianjurkan dan merupakan drug of choice karena cara pemakaiannya yang lebih mudah dan dosisnya lebih kecil.
- Regimen alternatif dapat diberikan :
* eritromisin 500 mg 4 x sehari selama 7 hari atau 250 mg 4 x sehari selama 14 hari (Pasien yang sedang hamil)
* eritromisin base 500 mg 4 x sehari selama 7 hari


Sumber: Departemen Kesehatan RI, 2007, Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007, Cetakan Tahun 2008, Jakarta

Jumat, 24 Juni 2011

TRAKOMA

Definisi
Trakoma merupakan infeksi mata yang berlangsung lama yang menyebabkan inflamasi dan jaringan parut pada konjungtiva dan kelopak mata serta kebutaan.

Penyebab
Trakoma terjadi akibat infeksi oleh bakteri Chlamydia trachomatis. Masa inkubasi berlangsung selama 5 – 12 hari.

Gambaran Klinis
- Kedua mata tampak merah dan berair. Penderita sukar melihat cahaya terang (silau) dan merasa gatal di matanya.
- Pada stadium awal, konjungtiva tampak meradang, merah dan mengalami iritasi serta mengeluarkan kotoran (konjungtivitis).
- Pada stadium lanjut, konjungtiva dan kornea membentuk jaringan parut sehingga bulu mata melipat ke dalam dan terjadi gangguan penglihatan.
- Gejala lainnya adalah:
§ pembengkakan kelopak mata
§ pembengkakan kelenjar getah bening yang terletak tepat di depan mata
§ kornea tampak keruh.

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan mata. Apusan mata diperiksa untuk mengetahui organisme penyebabnya

Penatalaksanaan
- Pengobatan meliputi pemberian salep antibiotik yang berisi tetrasiklin dan erithromisin selama 4 – 6 minggu. Selain itu antibiotik tersebut juga bisa diberikan dalam bentuk tablet.
§ Doksisiklin
o Sediaan : kapsul atau tablet 100 mg (HCl)
o Dosis dewasa 100 mg per oral 2 x sehari selama 7 hari atau
§ Tetrasiklin
o Sediaan salep mata 1% (HCl)
o Dosis dewasa 2 x sehari selama 6 minggu


Sumber: Departemen Kesehatan RI, 2007, Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007, Cetakan Tahun 2008, Jakarta

ENTRY TERKAIT:
Keratokonjungtivitis Vernal
Konjungtivitis Purulenta Neonatorum
Konjungtivitis Viral
Konjungtivitis Bakterial

TONSILITIS

Definisi
Tonsil adalah kelenjar getah bening di mulut bagian belakang (di puncak tenggorokan) yang berfungsi membantu menyaring bakteri dan mikroorganisme lainnya sebagai tindakan pencegahan terhadap infeksi. Tonsilitis adalah suatu peradangan pada tonsil (amandel) yang dapat menyerang semua golongan umur.
Pada anak, tonsilitis akut sering menimbulkan komplikasi. Bila tonsilitis akut sering kambuh walaupun penderita telah mendapatkan pengobatan yang memadai, maka perlu diingat kemungkinan terjadinya tonsilitis kronik.
Faktor-faktor berikut ini mempengaruhi berulangnya tonsilitis : rangsangan menahun (misalnya rokok, makanan tertentu), cuaca, pengobatan tonsilitis yang tidak memadai, dan higiene rongga mulut yang kurang baik.
Tonsilitis kronik dapat tampil dalam bentuk hipertrofi hiperplasia atau bentuk atrofi. Pada anak, tonsilitas kronik sering disertai pembengkakan kelenjar submandibularis adenoiditis, rinitis dan otitis media.

Penyebab
Penyebabny adalah infeksi bakteri streptokokus atau infeksi virus (lebih jarang).

Gambaran klinik
- Penderita biasanya mengeluh sakit menelan, lesu seluruh tubuh, nyeri sendi, dan kadang atalgia sebagai nyeri alih dari N. IX.
- Suhu tubuh sering mencapai 40C, terutama pada anak.
- Tonsil tampak bengkak, merah, dengan detritus berupa folikel atau membran. Pada anak, membran pad tonsil mungkin juga disebabkan oleh tonsilitis difteri.
- Pemeriksaan darah biasanya menunjukkan leukositosis.
- Pada tonsilitis kronik hipertrofi, tonsil membesar dengan permukaan tidak rata, kripta lebar berisi detritus. Tonsil melekat ke jaringan sekitarnya. Pada bentuk atrofi, tonsil kecil seperti terpendam dalam fosa tonsilaris.
- Gejala lainnya adalah demam, tidak enak badan, sakit kepala dan muntah.

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Tonsil membengkak dan tampak bercak-bercak perdarahan. Ditemukan nanah dan selaput putih tipis yang menempel di tonsil. Membran ini bisa diangkat dengan mudah tanpa menyebabkan perdarahan. Dilakukan pembiakan apus tenggorokan di laboratorium untuk mengetahui bakteri penyebabnya.

Penatalaksanaan
- Jika penyebabnya adalah bakteri, diberikan antibiotik per oral selama 10 hari.
Jika anak mengalami kesulitan menelan bisa diberikan dalam bentuk suntikan.
§ Penisilin V 1,5 juta IU 2 x sehari selama 5 hari atau 500 mg 3 x sehari.
§ Pilihan lain adalah eritromisin 500 mg 3 x sehari atau amoksisilin 500 mg 3 x sehari yang diberikan selama 5 hari. Dosis pada anak : eritromisin 40 mg/kgBB/ hari, amoksisilin 30 – 50 mg/kgBB/hari.
- Tak perlu memulai antibiotik segera, penundaan 1 – 3 hari tidak meningkatkan komplikasi atau menunda penyembuhan penyakit.
- Antibiotik hanya sedikit memperpendek durasi gejala dan mengurangi risiko demam rematik.
- Bila suhu badan tinggi, penderita harus tirah baring dan dianjurkan untuk banyak minum. Makanan lunak diberikan selama penderita masih nyeri menelan.
- Analgetik (parasetamol dan ibuprofen adalah yang paling aman) lebih efektif daripada antibiotik dalam menghilangkan gejala. Nyeri faring bahkan dapat diterapi dengan spray lidokain.
- Pasien tidak lagi menularkan penyakit sesudah pemberian 1 hari antibiotik.
- Bila dicurigai adanya tonsilitis difteri, penderita harus segera diberi serum anti difteri (ADS), tetapi bila ada gejala sumbatan nafas, segera rujuk ke rumah sakit.
- Pada tonsilitis kronik, penting untuk memberikan nasihat agar menjauhi rangsangan yang dapat menimbulkan serangan tonsilitis akut, misalnya rokok, minuman/makanan yang merangsang, higiene mulut yang buruk, atau penggunaan obat kumur yang mengandung desinfektan.
- Segera rujuk jika terjadi :
§ Tonsilitis bakteri rekuren (> 4x/tahun) tak peduli apa pun tipe bakterinya
§ Komplikasi tonsilitis akut: abses peritonsiler, septikemia yang berasal dari tonsil.
§ Obstruksi saluran nafas yang disebabkan oleh tonsil (yang dapat hampir saling bersentuhan satu sama lain), apneu saat tidur, gangguan oklusi gigi
§ Tonsilitis tidak memberikan respon terhadap pemberian antibiotik.


Sumber: Departemen Kesehatan RI, 2007, Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007, Cetakan Tahun 2008, Jakarta